Madina darurat k penambang ilegal In Memoriam H. Samad Lubis, SE

Almarhum H. Samad Lubis,SE
Catatan Kecil : Askolani Nasution
“Hal yang paling membuat saya
terharu dan selalu saya ingat, adalah ketika ibu saya meninggal dunia
tahun 2008. Beliau menelepon saya, katanya baru mendengar kabar, lalu
bertanya apa masih bisa beliau kejar untuk ikut menyolatkan almarhumah.
Saya lihat beliau berlari-lari masuk mesjid untuk ikut mensholatkan.”
Akhir tahun 2005, ketika saya
memenangkan Lomba Menulis Cerpen Tingkat Nasional, H. Samad Lubis, SE,
yang ketika itu menjadi Kadis Pendidikan Mandailing Natal, memanggil
saya ke ruang kerjanya. Ia bertanya apa saya bisa membuat majalah
pendidikan. Saya segera mengiyakan, karena dari dulu saya terobsesi
membuat media seperti itu.
Beliau segera meminta konsepnya, mulai
dari ukuran, warna, tampilan, rubrikasi, hingga kontent. Pendeknya,
media dalam bentuk siap cetak. Hanya empat hari, saya kembali menemui
beliau dan menunjukkan format yang telah disiapkan. Beliau langsung
setuju. Lalu segera dimasukkan dalam APBD 2006.
Kesanku ketika itu, beliau amat percaya
kepada orang, karena tak sedikitpun ada perubahan dari konsep yang saya
buat. Itulah awal pertama kali saya berhubungan tugas dengan beliau
hingga tahun 2009, ketika beliau mencalonkan diri menjadi wakil bupati
Mandailing Natal.
Saya merasakan bahwa beliau amat
menghargai kami para awak redaktur Buletin “Gema Pendidikan” itu.
Bertemu di jalan saja beliau langsung berhenti dan menegur duluan.
Justru kami yang merasa segan. Tiap kali berpapasan di kantor Dinas
Pendidikan, kami langsung di panggil ke ruangannya, lalu bercerita
banyak tentang persoalan dan target pendidikan di daerah ini, mulai dari
angka melek huruf, APK, peningkatan mutu guru, penggenjotan siswa
berprestasi, dan lain-lain.
Konsepnya yang paling menonjol seingat
saya adalah bagaimana meningkatkan jumlah SMK harus lebih banyak dari
jumlah SMA. Sebab, menurut beliau, untuk persaingan di masa depan, lebih
dibutuhkan lulusan yang memiliki kompetensi kewirausahaan, karena angka
lulusan SLTA yang memasuki dunia kerja jauh lebih banyak dari pada
lulusan yang melanjutkan ke perguruan tinggi. Saya ingat betul, ketika
itu beliau menargetkan bahwa dalam lima tahun ke depan, jumlah SMK harus
70 persen dan SMA 30 persen, berbanding terbalik dengan kondisi saat
itu.
Selain itu, hal yang paling inovatif
saya kira adalah usaha beliau untuk mengembangkan potensi anak-anak
berbakat. Karena beliau meyakini bahwa potensi kecerdasan justru lebih
banyak lahir dari dari daerah. Karena itu, waktu itu beliau menggagas
Pelatihan Fisika bekerja sama dengan Lembaga Fisika Indonesia yang
digagas Prof. Johannes Surya. Beberapa anak-anak cerdas dikumpul, lalu
diberi pelatihan Matematika dan Fisika. Dan hasilnya amat signifikan.
Banyak ajang lomba di tingkat provinsi dan nasional yang segera
didominasi oleh anak-anak yang berasal dari Mandailing Natal. Apalagi
anak-anak berbakat itu dilatih secara simultan oleh guru-guru terbaik
pada masa itu.
Para guru juga diberi dukungan yang
signifikan untuk mengembangkan potensinya. Kami para guru berprestasi
diperkenalkan sedemikian rupa kepada publik dalam berbagai kesempatan.
Itu reward yang luar biasa saya kira. Tahun 2007 misalnya, saya bahkan diberi reward
20 juta karena terpilih menjadi guru berprestasi tingkat SMA/SMK. Saya
juga ditawari umroh, tetapi saya tolak karena belum cukup siap rasanya
ketika itu. Saya juga ditawari beasiswa S2 yang sempat saya jalani
beberapa bulan saja di UBH. Saya keluar karena tidak betah saja. Saya
yakin, hingga hari ini, tidak pernah ada hadiah sebesar itu untuk para
guru berprestasi.
Reward serupa juga dirasakan
oleh teman saya, Ahmad Syukri Lubis, pemenang Medali Emas Nasional untuk
Media Pembelajaran Berbasis TIK. Ahmad Syukri Lubis diberi ruang untuk
mengajar di SMA Plus Kotanopan ketika itu, meskipun yang bersangkutan
hanya lulusan STM. Itu menunjukkan bahwa, bagi beliau, kompetensi jauh
lebih penting dari pada ijazah. Ahmad Syukri bercerita kepada saya,
bagaimana ia merasa amat dihargai setiap kali bertemu dengan H. Samad
Lubis, meskipun dalam kehidupan sehari-hari. Penghargaan yang
dilakukannya saya kira tulus, tanpa basa-basi layaknya pejabat lain
ketika itu.
Hal yang paling membuat saya terharu dan
selalu saya ingat, adalah ketika ibu saya meninggal dunia tahun 2008.
Beliau menelepon saya, katanya baru mendengar kabar, lalu bertanya apa
masih bisa beliau kejar untuk ikut menyolatkan almarhumah. Saya lihat
beliau berlari-lari masuk mesjid untuk ikut mensholatkan. Itu amat
berkesan bagi saya. Tentu karena saya cuma guru rendahan ketika itu, dan
beliau secara hirarkis beberapa tingkat kedudukannya di atas saya.
Orang seperti saya mungkin tidak akan dianggap ada oleh pejabat
setingkat beliau, tetapi beliau tampak tulus memperlakukan kami para
guru berprestasi.
Banyak tugas-tugas inovasi yang
diberikan kepada kami. Misalnya membuat video profil pendidikan
Mandailing Natal. Semua konsepnya diserahkan kepada kami, dan semua
konsep yang kami tawarkan tidak pernah ditolak. Ketika kami datang
memperlihatkan profil yang kami buat, beliau memanggil semua staf untuk
menyaksikan bersama, menunda semua pekerjaan dulu. Kami ditawari
berbagai makan dan minum sambil terus memuji-muji pekerjaan kami di
depan stafnya. Saya kira, itu bentuk reinforcement yang luar biasa untuk membuat orang bisa total bekerja.
Tahun 2013, ketika kami menggarap film
“Senandung Willem”, beliau juga beberapa kali datang melihat-lihat.
Beliau seperti tim bagi kami karena dapat lentur bercerita tentang
berbagai persoalan seni, tanpa batas-batas status sosial. Padahal beliau
Asisten Sekdakab ketika itu, dan kami cuma para pekerja film. Duduk
bersama di bawah kayu, emperan rumah, atau tempat apa saja tanpa
sungkan. Itu hal yang luar biasa saya kira, karena sulit bertemu tokoh
yang mau mensejajarkan diri dengan orang-orang rendah seperti kami.
Terlalu panjang jadinya tulisan ini,
kalau harus saya runut semua segala penciptaan kesan baik yang
diperankan H. Samad Lubis, SE kepada kami orang-orang kecil. Tulisan ini
tanpa pretensi apa pun, hanya sebatas memperkenalkan sisi lain dari
pribadi seorang mantan Kadis Pendidikan Mandailing Natal.
Semoga beliau mendapat tempat yang mulia
di hadapan Allah SWT, dan semoga keluarga yang ditinggalkan diberi
ketabahan. Pesona kerendah-hatian beliau kiranya dapat menjadi teladan
bagi anak-anak yang ditinggalkan, juga bagi kita semua untuk dapat
sedikit merendahkan kedudukannya di hadapan orang-orang kecil yang tak
dicatat sejarah. (penulis kini beraktifitas sebagai sutradara)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
No Sara, Sex and Politic