Mau PTK lengkap untuk SMA hubungi No.HP. 082189561411 untuk Semua Mata Pelajaran
Madina oh Madina
by PARLINDUNGAN SACH LUBIS guru di SMA NEGERI 1 BATANG NATAL
Selasa, 17 Mei 2016
Minggu, 08 Mei 2016
Anggota Polres Mandailing Natal Pengedar Ekstasi Dibekuk
Anggota Polres Mandailing Natal Pengedar Ekstasi Dibekuk
Budi Warsito • 03 Maret 2016 18:56 WIB
narkoba
Ilustrasi barang bukti ekstasi (Foto: MI/Arya Manggala)
Metrotvnews.com, Medan: Badan Narkotika
Nasional Provinsi Sumatera Utara membekuk seorang anggota Polri, Ajun
Inspektur Polisi Satu (Aiptu) M pengedar ratusan pil ekstasi di Jalan
Garuda 4, Perumnas Mandala, Medan, Rabu 2 Maret. Penangkapan ini
menambah panjang daftar oknum Polri yang terlibat dalam pengedaran
narkoba.Aiptu M ditangkap bersama rekannya, S. Polisi menyita sebanyak 900 pil butir ekstasi dari tangan tersangka.
Namun, Sinuhaji enggan merinci kronologi penangkapan anggota Polres Mandailing Natal itu.
"Ini masih pengembangan. Untuk kronologinya akan kami sampaikan nanti," pungkasnya.
Terkait Kasus Dugaan Politik Uang, Ini Kejahatan Demokrasi, Polisi harus Mengusutnya
Terkait Kasus Dugaan Politik Uang, Ini Kejahatan Demokrasi, Polisi harus Mengusutnya
- dibaca 54 kali
- Sabtu, 2 April, 2016
- Mandailing Natal
METROTABAGSEL.COM, MADINA
– Praktisi hukum Razman Arif Nasution mengapresiasi kinerja penyidik
Polres Mandailing Natal (Madina) yang telah menetapkan tiga orang
tersangka dalam kasus dugaan politik uang di Pilkada Madina. Razman
mengatakan, politik uang mengancam kehidupan berdemokrasi dan harus
disikapi dengan serius. Karena politik uang bukan hanya soal ancaman
hukuman bagi tersangka.
”Saya mengapresiasi Kapolres Madina dan jajaran penyidik yang telah memproses kasus politik uang Pilkada Madina. Politik uang merupakan ancaman terhadap demokrasi di negara kita dan harus disikapi dengan serius oleh semua pihak terutama penegak hukum. Karena itu sudah jelas pidananya di dalam Undang-Undang KUHP,” sebut Razman kepada Metro Tabagsel, Jumat (1/4).
Karena itu, Razman mengatakan, penyidik harus bisa mengusut sumber uang yang digunakan tersangka sebagai alat terjadinya politik uang di Pilkada Madina 9 Desember yang lalu.
Apalagi menurut Razman, salah seorang dari tiga tersangka yaitu KHN merupakan pimpinan partai politik pengusung salah satu pasangan calon bupati dan wakil bupati Madina.
KHN juga diinformasikan sebagai Bendahara tim pemenangan paslon nomor urut dua itu. Razman optimis, penyidik di Polres Madina pasti profesional melaksanakan tugas penyidikannya.
Razman kemudian meminta kepada tersangka khususnya KHN agar tidak membohongi penyidik soal sumber uang yang dijadikan sebagai alat politik uang.
”Polisi pasti mampu mengungkap sumber dana itu. Tak mungkinlah saudara KHN mau mengeluarkan uang pribadinya. KHN harus memberikan keterangan yang sebenarnya dalam pemeriksaan lanjutan,” pesan Razman.
Pria yang pernah membela Calon Kapolri Komjen Pol Budi Gunawan tersebut saat ditetapkan KPK sebagai tersangka tahun lalu menyampaikan, apabila tersangka berbohong soal sumber dana tersebut, Razman akan meminta bantuan Mabes Polri untuk memeriksa dengan menggunakan Lie Detector.
“Kalau tersangka masih bohong, saya akan minta bantuan Mabes Polri agar diperiksa menggunakan Lie Detector. Di situ nanti dilihat apakah ia berbohong atau tidak. Kasus ini bukan persoalan ancaman hukuman, tetapi ini demi masa depan demokrasi di Negara kita,” tambahnya.
Mengenai pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati Madina yang sudah ditetapkan sebagai pasangan calon terpilih oleh KPU Madina, Razman mengatakan akan meminta Mendagri, Gubernur Sumut, KPU RI, KPU Sumut dan KPU Madina juga Bawaslu RI hingga Panwaslih Madina supaya mempertimbangkan kasus politik uang sebelum dilakukan pelantikan.
“Saya akan berkirim surat dengan Mendagri, Gubernur Sumut, KPU RI hingga jajarannya di tingkat kabupaten dan Bawaslu hingga jajarannya ke tingkat kabupaten. Saya akan menjelaskan ke Mendagri agar pelantikan ditunda dan mengkawal kasus ini agar diproses berdasarkan ketentuan hukum yang berlaku. Kita ingin menyelamatkan demokrasi di negara ini,” pungkasnya. (wan)
”Saya mengapresiasi Kapolres Madina dan jajaran penyidik yang telah memproses kasus politik uang Pilkada Madina. Politik uang merupakan ancaman terhadap demokrasi di negara kita dan harus disikapi dengan serius oleh semua pihak terutama penegak hukum. Karena itu sudah jelas pidananya di dalam Undang-Undang KUHP,” sebut Razman kepada Metro Tabagsel, Jumat (1/4).
Karena itu, Razman mengatakan, penyidik harus bisa mengusut sumber uang yang digunakan tersangka sebagai alat terjadinya politik uang di Pilkada Madina 9 Desember yang lalu.
Apalagi menurut Razman, salah seorang dari tiga tersangka yaitu KHN merupakan pimpinan partai politik pengusung salah satu pasangan calon bupati dan wakil bupati Madina.
KHN juga diinformasikan sebagai Bendahara tim pemenangan paslon nomor urut dua itu. Razman optimis, penyidik di Polres Madina pasti profesional melaksanakan tugas penyidikannya.
Razman kemudian meminta kepada tersangka khususnya KHN agar tidak membohongi penyidik soal sumber uang yang dijadikan sebagai alat politik uang.
”Polisi pasti mampu mengungkap sumber dana itu. Tak mungkinlah saudara KHN mau mengeluarkan uang pribadinya. KHN harus memberikan keterangan yang sebenarnya dalam pemeriksaan lanjutan,” pesan Razman.
Pria yang pernah membela Calon Kapolri Komjen Pol Budi Gunawan tersebut saat ditetapkan KPK sebagai tersangka tahun lalu menyampaikan, apabila tersangka berbohong soal sumber dana tersebut, Razman akan meminta bantuan Mabes Polri untuk memeriksa dengan menggunakan Lie Detector.
“Kalau tersangka masih bohong, saya akan minta bantuan Mabes Polri agar diperiksa menggunakan Lie Detector. Di situ nanti dilihat apakah ia berbohong atau tidak. Kasus ini bukan persoalan ancaman hukuman, tetapi ini demi masa depan demokrasi di Negara kita,” tambahnya.
Mengenai pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati Madina yang sudah ditetapkan sebagai pasangan calon terpilih oleh KPU Madina, Razman mengatakan akan meminta Mendagri, Gubernur Sumut, KPU RI, KPU Sumut dan KPU Madina juga Bawaslu RI hingga Panwaslih Madina supaya mempertimbangkan kasus politik uang sebelum dilakukan pelantikan.
“Saya akan berkirim surat dengan Mendagri, Gubernur Sumut, KPU RI hingga jajarannya di tingkat kabupaten dan Bawaslu hingga jajarannya ke tingkat kabupaten. Saya akan menjelaskan ke Mendagri agar pelantikan ditunda dan mengkawal kasus ini agar diproses berdasarkan ketentuan hukum yang berlaku. Kita ingin menyelamatkan demokrasi di negara ini,” pungkasnya. (wan)
Polsek Panyabungan Tangkap 12 Pelaku Kejahatan
Polsek Panyabungan Tangkap 12 Pelaku Kejahatan
PANYABUNGAN (Mandailing Online) – Polisi Sektor (Polsek) Panyabungan, Kabupaten Mandailing Natal (Madina) berhasil menangkap 12 pelaku kejahatan dalam beberapa terakhir. Mereka ditangkap di berbagai tempat.
Kapolsek Panyabungan, AKP Topan HT, Selasa (27/1) menyatakan masing-masing yang ditangkap berbeda tindak kejahatannya, mulai curas (pencurian dengan kekerasan), curanmor (pencurian kenderaan bermotor) dan curat (pencurian dengan pemberatan) serta cabul anak dibawah umur.
Kasus curas yang ditangkap sebayak 2 tersangka berinisial T (30) warga Padang Sidempuan dan B (28) warga Panyabungan. Keduanya melakukan kejahatan dengan cara memepet mobil korban dan mengancamkan sebilah sangkur dileher korban serta merampas uang korban sebanyak Rp 1,7.
“Untuk kasus curat ada 3 kasus, spesialis mencuri rumah kosong, kita mengamankan 6 tersangka dengan inisial S (25), BG (22), K (41), W (17), AY (21) dan AS (17) para tersangka beralamat di Kelurahan Sipolu-polu Panyabungan,” katanya.
Barang bukti hasil kejahatan keenam tersangka berupa gelang emas, emas bermata berlian, cincin bermata berlian, HP, kerabu, uang tunai Rp. 1.498.000. Barang bukti lainnya yang digunakan berupa 2 buah linggis, lalu ada dompet tersangka yang terjatuh di TKP.
“1 unit sepeda motor Satria FU juga ada kita amankan dari tangan tersangka, karena diduga sepeda motor tersebut dibelinya dari uang hasil kejehatanya. Tersangka mengaku membeli kereta (sepeda motor) tersebut seharga 11 juta rupiah,”paparnya.
Sementara kasus curanmor yang berhasil ditangkap sebanyak 3 orang tersangka dengan inisial SR (30) penduduk Huta Bangun Kecamatan Panyabungan Timur, IL (31) penduduk Padangsidimpuan, S (21) penduduk Sarak Matua Kecamatan Panyabungan. Dan barang bukti yang disita 3 unit sepeda motor jenis Honda Mega Pro, Honda Beat dan Honda Vario.
“Sementara untuk kasus pencabulan dibawah umur, kita telah mengamankan satu orang tersangka berinisial ON (30) penduduk Pasar Hilir Kecamatan Panyabungan.
Peliput : Maradotang Pulungan
Editor : Dahlan Batubara
Sensasi Masakan Mandailing
Sensasi Masakan Mandailing
"Masakan Mandailing dari Sumatera Utara bagai polah bocah badung yang lucu menggemaskan."
Masakan
Mandailing dari Sumatera Utara bagai polah bocah badung yang lucu
menggemaskan. Ada sentilan pahit yang mengintip, getir menggelitik
seperti soda, hingga kedalaman rasa gurih yang akrab.
Aroma sedap meroyak hingga seluruh sudut di Pantry Magic, sebuah toko perlengkapan masak di kawasan Kemang, Jakarta Selatan.
Rahung Nasution—yang pada kartu nama menyebut dirinya sebagai "pseudo-chef" alias "chef" gadungan—mengaduk perlahan masakan racikannya dalam belanga baja tahan karat di atas kompor.
Asap tipis membubung dari sela-sela potongan montok bebek muda yang berlumuran bumbu kental kecoklatan. Duh....
Kelas masak rutin di Pantry Magic kali ini bertema masakan Mandailing. Sebelumnya, Rahung menjelaskan beberapa hal mengenai masakan Mandailing pada sembilan peserta yang hadir pagi itu, baik orang Indonesia maupun warga ekspatriat.
Masakan Mandailing mengenal kompleksitas bumbu seperti umumnya masakan dari daratan Sumatera. "Masakan Mandailing juga dipengaruhi oleh masakan Minangkabau dan Melayu," kata Rahung, yang berasal dari Sayurmatinggi, Batang Angkola, Tapanuli Selatan. Hanya saja, ada beberapa kekhasan serta bahan bumbu yang dikenal dari masakan Mandailing dan suku-suku lain di Sumatera Utara, seperti Batak Toba. Mandailing atau Batak Mandailing sendiri merupakan suku yang berasal dari kawasan yang kini mewujud jadi beberapa kabupaten selain Mandailing Natal.
Pagi itu, Rahung dibantu Astrid Enricka akan memasak lima menu, dua di antaranya sambal. Kelimanya adalah rendang itik, gulai ikan asap, sayur tauco, sambal ikan teri joruk, dan sambal tuktuk umbut rotan.
Menu rendang bebek menggunakan bebek muda yang satu ekornya berbobot 0,7-1 kilogram. Racikan bumbu yang digunakan serupa dengan bumbu kari dasar. Hanya saja, racikan rendang ala Mandailing ini disusupi rempah istimewa, yakni andaliman segar.
Andaliman (Zanthoxylum acanthopodium) ini wujudnya semacam lada dan masih satu keluarga dengan jeruk-jerukan. Ketika digerus begitu saja di dalam mulut akan terbit rasa seperti sitrus yang lalu disusul sengatan serupa soda yang menggigit-gigit tepian dan ujung lidah selama sekitar sepuluh menit. Belum lagi deraan rasa kebas dan kelu yang tertinggal di rongga mulut.
Namun percayalah, ketika si "merica batak" ini bersenyawa dalam masakan, ia memberi kontribusi rasa yang jauh lebih menyenangkan. "Di Jakarta, andaliman bisa dibeli misalnya di Pasar Tebet (Jakarta Selatan)," ungkap Astrid.
Rahung juga menggunakan ombu-ombu atau kerisik kelapa. Bahan ini adalah kelapa parut yang disangrai hingga keluar minyak kemudian digiling atau diblender. Bahan ini menambah kedalaman cita rasa gurih dari rendang.
Dalam waktu sekitar satu jam, rondang itik pun sudah siap disantap. Bumbu kecoklatan tua dan kental mengikat potongan-potongan bebek dengan sempurna. Bahkan tanpa meninggalkan residu minyak berlebih yang mengganggu.
Aroma sedap meroyak hingga seluruh sudut di Pantry Magic, sebuah toko perlengkapan masak di kawasan Kemang, Jakarta Selatan.
Rahung Nasution—yang pada kartu nama menyebut dirinya sebagai "pseudo-chef" alias "chef" gadungan—mengaduk perlahan masakan racikannya dalam belanga baja tahan karat di atas kompor.
Asap tipis membubung dari sela-sela potongan montok bebek muda yang berlumuran bumbu kental kecoklatan. Duh....
Kelas masak rutin di Pantry Magic kali ini bertema masakan Mandailing. Sebelumnya, Rahung menjelaskan beberapa hal mengenai masakan Mandailing pada sembilan peserta yang hadir pagi itu, baik orang Indonesia maupun warga ekspatriat.
Masakan Mandailing mengenal kompleksitas bumbu seperti umumnya masakan dari daratan Sumatera. "Masakan Mandailing juga dipengaruhi oleh masakan Minangkabau dan Melayu," kata Rahung, yang berasal dari Sayurmatinggi, Batang Angkola, Tapanuli Selatan. Hanya saja, ada beberapa kekhasan serta bahan bumbu yang dikenal dari masakan Mandailing dan suku-suku lain di Sumatera Utara, seperti Batak Toba. Mandailing atau Batak Mandailing sendiri merupakan suku yang berasal dari kawasan yang kini mewujud jadi beberapa kabupaten selain Mandailing Natal.
Pagi itu, Rahung dibantu Astrid Enricka akan memasak lima menu, dua di antaranya sambal. Kelimanya adalah rendang itik, gulai ikan asap, sayur tauco, sambal ikan teri joruk, dan sambal tuktuk umbut rotan.
Menu rendang bebek menggunakan bebek muda yang satu ekornya berbobot 0,7-1 kilogram. Racikan bumbu yang digunakan serupa dengan bumbu kari dasar. Hanya saja, racikan rendang ala Mandailing ini disusupi rempah istimewa, yakni andaliman segar.
Andaliman (Zanthoxylum acanthopodium) ini wujudnya semacam lada dan masih satu keluarga dengan jeruk-jerukan. Ketika digerus begitu saja di dalam mulut akan terbit rasa seperti sitrus yang lalu disusul sengatan serupa soda yang menggigit-gigit tepian dan ujung lidah selama sekitar sepuluh menit. Belum lagi deraan rasa kebas dan kelu yang tertinggal di rongga mulut.
Namun percayalah, ketika si "merica batak" ini bersenyawa dalam masakan, ia memberi kontribusi rasa yang jauh lebih menyenangkan. "Di Jakarta, andaliman bisa dibeli misalnya di Pasar Tebet (Jakarta Selatan)," ungkap Astrid.
Rahung juga menggunakan ombu-ombu atau kerisik kelapa. Bahan ini adalah kelapa parut yang disangrai hingga keluar minyak kemudian digiling atau diblender. Bahan ini menambah kedalaman cita rasa gurih dari rendang.
Dalam waktu sekitar satu jam, rondang itik pun sudah siap disantap. Bumbu kecoklatan tua dan kental mengikat potongan-potongan bebek dengan sempurna. Bahkan tanpa meninggalkan residu minyak berlebih yang mengganggu.
(Sari Febriane, via: tribunnews.com)
“Toge” Sajian Buka Puasa Khas Mandailing Natal
“Toge” Sajian Buka Puasa Khas Mandailing Natal
Panyabungan
24/6 – Toge merupakan salah satu jajanan khas Mandailing Natal sebagai
sajian setiap hari khususnya saat Bulan Suci Ramadhan yang bisa
didapatkan di pasar Ramadhan tepatnya Pasar Baru Panyabungan, Rabu.“Roilah Hsb (50) pedagang Toge mengatakan adapun harga jual masakan sajian khas Madina ini sekitar empat ribu rupiah setiap bungkusnya.”
“Toge merupakan paduan beberapa macam masakan antara lain seperti pulut hitam, pulut putih, tepung beras, gula aren dan sebagai pewangi dan pewarna cendol ditambah beberapa helai daun pandan,” katanya.
“Sekitar 15 tahun yang lalu masakan toge ini tampil mengikuti perlombaan kuliner khas daerah seluruh Indonesia yang diadakan di Taman Mini Indonesia Indah Jakarta,” tambahnya.
“Menurutnya selain pelengkap sajian buka puasa, Toge juga sering dihidangkan pada acara pernikahan dan hari besar lainnya baik di Madina dan luar Madina sendiri. Masakan khas ini sudah berusia ratusan tahun dari beberapa keturunan,” tambahnya.
“Sementara Irma salah satu pembeli mengatakan buka puasa terasa kurang sempurna tanpa dilengkapi dengan “Toge” bahkan hari biasa sendiripun kita mendapat pesanan dari saudara yang berada di luar Madina karena merindukan makanan khas masyarakat Mandailing Natal,” katanya.
Kuliner Unik Khas Mandailing
Kuliner Unik Khas Mandailing
Itak Pohul - Pohul
Gule rondang juhut ( rendang daging )
Gule torung Ronca ikan Sale
Kue panggelong ( lapet )
Sambal aporas dot kantang ( sambal ikan aporas/tawar campur kentang )
Sambal Tuk - tuk
Rondang Joring ( Rendang Jengkol )
Toge Panyabungan ( sejenis Es cendol bin es campur )
Ikan Sale...
Wajid / indan Simanis Terkadang di sebut orang juga Kue pocong,
Karna kemasannya kayak pocong di ikat atas bawah
Karna kemasannya kayak pocong di ikat atas bawah
Kipang pnaybungan
Rondang Bolut

lemang

lomang Bulu ( lemang)
Sasagon ( tepung di gongseng campur gula dan kelapa parut)
Lagi Manggaor Alame( dodol)
Dodol Yang sudah Di Kemas Dalm bungkusan berupa ayaman

Gule Bulung Gadung Nadi Duda Marronca ikan sale ( Daun ubi tumbuk)
Pangkat Alias Pusuk ni otangSiap saji
PAngkat / pusuk ni otang campur Aso2 na itutung
Pusuk no otang/panggkat
Gule Pira Ni tobu...
Mandailing Natal Desa Ampung Padang Kecamatan Batang Natal
Ampung Padang, Batang Natal, Mandailing Natal
| Ampung Padang | |
|---|---|
| Desa | |
| Negara | Indonesia |
| Provinsi | Sumatera Utara |
| Kabupaten | Mandailing Natal |
| Kecamatan | Batang Natal |
| Kodepos | 22983 |
| Luas | ... km2 |
| Jumlah penduduk | ... jiwa |
| Kepadatan | ... jiwa/km2 |
|
|||||
Kategori:
Mandailing Natal Desa Ampung Padang
Ampung Padang, Batang Natal, Mandailing Natal
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
| Ampung Padang | |
|---|---|
| Desa | |
| Negara | |
| Provinsi | Sumatera Utara |
| Kabupaten | Mandailing Natal |
| Kecamatan | Batang Natal |
| Kodepos | 22983 |
| Luas | ... km² |
| Jumlah penduduk | ... jiwa |
| Kepadatan | ... jiwa/km² |
|
||||||
| Artikel bertopik kelurahan atau desa di Indonesia ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya. |
Menu navigasi
Komunitas
Cetak/ekspor
Perkakas
Bahasa lain
- Halaman ini terakhir diubah pada 24 Januari 2016, pukul 02.37.
- Teks tersedia di bawah Lisensi Atribusi-BerbagiSerupa Creative Commons; ketentuan tambahan mungkin berlaku. Lihat Ketentuan Penggunaan untuk lebih jelasnya.
Obyek Wisata Kabupaten Mandailing Natal Sumatera Utara
Obyek Wisata Kabupaten Mandailing Natal Sumatera Utara

Kabupaten
Mandailing Natal memiliki objek wisata berupa keindahan alam dan
peninggalan sejarah. Daerah ini memiliki hutan yakni Taman Nasional
Batang Gadis 108.000 hektar (26 % dari luas hutan), dengan kisaran
ketinggian 300 – 2.145 meter diatas pemukaan laut.
Taman ini memiliki 242 tumbuhan berpembuluh (vascular plaut) atau 1,00 % dari tanaman pembuluh di Indonesia, memiliki 218 jenis satwa burung (38 jenis langka), dan 25 jenis mamalia besar.
Objek peninggalan sejarah berupa Bagas Godang (Istana Raja), Terowongan Jepang, Meriam Portugis dan Sumur Multatuli, merupakan potensi wisata yang cukup baik.
Objek wisata yang masih alami tetapi telah banyak dikunjungi para wisatawan adalah :
1. Air Panas Sibanggor, di Kecamatan Tambangan
2. Air Panas Sampuraga, di Kecamatan Panyabungan
3. Air Panas Siabu, di Kecamatan Siabu
4. Danau Siombun, di Kecamatan Panyabungan
5. Danau Marambe, di Kecamatan Panyabungan Barat
6. Bendungan Batang Gadis, di Kecamatan Panyabungan
7. Atraksi Monyet, di Kecamatan Siabu
8. Air Panas Putusan, di Kecamatan Panyabungan Selatan
9. Air Terjun Sitaut, di Kecamatan Kotanopan
10. Panaroma Sopotinjak, di Kecamatan Batang Natal
11. Sumur Multatuli, di Kecamatan Natal
12. Pantai Natal, di Kecamatan Natal
13. Pantai Sikara-Kara, di Kecamatan Natal
Cerita Rakyat
Sampuraga
Salah satu cerita yang diwariskan secara turun temurun di Mandailing adalah cerita ataupun “Legenda Sampuraga”.
Dahulu, Sampuraga dan ibunya tinggal di tempat daerah Padang Bolak. Keadaan sangat miskin di tempat ini, sehingga menyebabkan Sampuraga berkeinginan untuk merubah kehidupannya. Dia tidak ingin pekerjaannya hanya mencari kayu bakar setiap harinya. Ia ingin menjadi pemuda yang membayangkan masa depan yang cerah. Kemudian ia berniat untuk merantau dan mohon izin pada ibunya yang sudah sangat tua. Sampuraga meninggalkan orang tuanya dengan linangan air mata. Dia berjanji akan membantu keadaan ibunya apabila telah berhasil kelak. Ibunya kelihatan begitu sedih, karena Sampuraga adalah putera satu-satunya yang dimilikinya. Ia melepas kepergian putranya dengan tetesan air mata.
Sampuraga terus melanjutkan petualangannya dengan kelelahan yang terus menerus. Setelah beberapa lama sampailah ia ke Pidelhi (Pidolo sekarang), dan berdiam disana untuk beberapa waktu. Kemudian dilanjutkannya perjalanannya ke Desa Sirambas. Pada waktu itu Sirambas dipimpin oleh seorang raja yang bernama Silanjang (Kerajaan Silancang). Ditempat ini Sampuraga bekerja keras yang merupakan kebiasannya sejak masa kanak-kanak. Rajapun tertarik dan ingin menjodohkannya pada putrinya. Tentu saja Sampuraga sangat senang setelah mengetahui hal ini. Raja bermaksud membuat pesta besar, semua raja-raja di sekitar Mandailing diundang. Sementara ibunya sangat rindu pada putranya. Sampuraga telah tumbuh menjadi dewasa dengan begitu banyak perubahan. Dia tidak lagi seorang yang miskin seperti dahulu. Dia adalah lelaki yang kaya raya dan menjadi seorang raja.
Ketika upacara perkawinan tiba, ibunya dating ke pesta itu berharap dapat berjumpa denganputranya secepatnya. Tetapi apa yang terjadi ??? Sampuraga tidak mengakui kalau itu adalah ibunya. Dia malu kepada istrinya karena ibunya kelihatan sangat tua renta dan miskin, dia menyuruh ibunya untuk pergi dari tempat itu.
Sampuraga berkata “Hei orang tua, kamu bukan ibu kandungku, ibuku telah lama meninggal dunia. Pergi…!!!” Sampuraga tidak peduli dengan kesedihan dan penderitaan ibunya.
Ibunya pun pergi sambil memohon dan berdo’a kepada Allah SWT, Sampuraga dikutuk oleh ibunya dan kedurhakaannya tidak lain adalah disebabkan oleh kekayannya, ibunya memeras air susunya, Sampuraga lupa bahwa ia pernah disusui oleh ibunya.
Atas kehendak Allah SWT, datanglah badai tiba-tiba disekitar tempat istana menjadi banjir dan dihempas oleh air. Sampuraga tenggelam dan tempat itu menjadi Sumur Air Panas. Itulah yang dikenal dengan Air Panas Sampuraga di Desa Sirambas.
Wisata Sejarah
Multatuli
Multatuli (Bahasa Latin untuk “Saya sungguh menderita”) adalah salah satu nama yang terkenal di Natal. Multatuli adalah nama samaran untuk Eduard Douwes Dekker yang menulis buku “Max Havelaar”.
Buku ini disebut sebagai “buku yang menghapuskan kolonialisme”. Multatuli tinggal di Natal pada tahun 1842-1844. Disini da-pat dilihat bebe-rapa peningga-lan Multatuli se-perti sebuah sumur besar yang duhulunya digunakan oleh Multatuli pada saat dia tinggal di Natal.
Pesanggrahan Kotanopan
Pesanggrahan Kotanopan, pesanggrahan terbesar dan terbagus di Sumatera pada abad XIX. Bahkan Presiden Soekarno pun pernah berkunjung ke pesanggrahan ini pada 16 Juni 1948 untuk menggelar rapat raksasa. Di depan pesanggrahan ini juga terdapat prasasti yang memuat nama para Perintis Kemerdekaan yang berasal dari Mandailing.
Rumah Kontrolir Natal pada Abad XIX
Perayaan 10 Muharram memperingati hari wafatnya cucu Nabi Muhammad SAW. Hasan dan Husin di halaman kediaman Kontrolir Natal, Asisten Residensi Mandailing Angkola di Natal pada abad XIX.
Bagas Godang dan Sopo Godang
Bagas Godang (Rumah Raja) senantiasa dibangun berpasangan dengan sebuah balai sidang adat yang terletak di hadapan atau di samping Rumah Raja. Balai sidang adat tersebut dinamakan Sopo Sio Rancang Magodang atau Sopo Godang. Bangunannya mempergunakan tiang-tiang besar yang berjumlah ganjil sebagai-mana jumlah anak tangganya. Untuk melambangkan bahwa pemerintahan dalam Huta adalah pemerintahan yang demokratis, maka Sopo Godang dibangun tanpa di dinding.
Dengan cara ini, semua sidang adat dan pemerintahan dapat dengan langsung dan bebas disaksikan dan didengar oleh masyarakat Huta. Sopo Godang tersebut dipergunakan oleh Raja dan tokoh-tokoh Na Mora Na Toras sebagai wakil rakyat untuk "tempat mengambil keputusan-keputusan penting dan tempat menerima tamu-tamu terhormat". Sesuai dengan itu, maka bangunan adat tersebut diagungkan dengan nama Sopo Sio Rancang Magodang inganan ni partahian paradatan parosu-rosuan ni hula dohot dongan (Balai Sidang Agung tempat bermusyawarah/mufakat, melakukan sidang adat dan tempat menjalin keakraban para tokoh terhormat dan para kerabat). Biasanya di dalam bangunan ini ditempatkan Gordang Sambilan yaitu alat musik tradisional Mandailing yang dahulu dianggap sakral.
Setiap Bagas Godang yang senantiasa didampingi oleh sebuah Sopo Godang harus mempunyai sebidang halaman yang cukup luas. Oleh kerana itulah maka kedua bangunan tersebut ditempatkan pada satu lokasi yang cukup luas dan datar dalam Huta. Halaman Bagas Godang dinamakan Alaman Bolak Silangse Utang (Halaman Luas Pelunas Hutang). Sesiapa yang mencari perlindungan dari ancaman yang membahayakan dirinya boleh mendapat keselamatan dalam halaman ini. Menurut adat Mandailing, pada saat orang yang sedang dalam bahaya memasuki halaman ini, ia dilindungi Raja, dan tidak boleh diganggu-gugat.
Sesuai dengan fungsi Bagas Godang dan Sopo Godang, kedua bangunan adat tersebut melambangkan keagungan masyarakat Huta sebagai suatu masyarakat yang diakui sah kemandiriannya dalam menjalankan pemerintahan dan adat dalam masyarakat Mandailing.
Karena itu, kedua bangunan ter-sebut dimuliakan da-lam kehidupan mas-yarakat. Adat-istiadat Mandailing menjadi-kan kedua bangunan adat tersebut sebagai milik masyarakat Huta tanpa mengu-rangi kemulian Raja dan keluarganya yang berhak penuh menem-pati Bagas Godang. Oleh kerana itu, pada masa lampau Bagas Godang dan Sopo Godang maupun Alaman Bolak Silangse Utang dengan sengaja tidak berpagar atau bertembok memisahkannya dari rumah-rumah penduduk Huta.
Lubuk Larangan
Di sepanjang Sungai Batang Gadis ada sebuah bagian yang disebut Lubuk Larangan yang panjangnya kira-kira 1 km. Biasanya dua kali dalam setahun terbuka bagi umum untuk menangkap ikan namun dalam bantuk yang terorganisir. Pada waktu lain dilarang keras untuk menangkap ikan disini. Seseorang yang ingin ikut ambil bagian dalam menangkap ikan harus mendaftarkan dirinya kepada sekretariat dan harus membayar uang pendaftaran. Uang tersebut dipergunakan untuk kepentingan umum dalam komunitas masyarakat tersebut.
Gagasan dibalik lubuk larangan ini adalah untuk menghasilkan pendapatan untuk desa dan pelestarian ikan-ikan langka seperti ikan merah (sejenis jurung).
Wisata Alam
Sopotinjak
Di Kecamatan Batang Natal terdapat sebuah puncak yang bernama Sopotinjak. Pemandangannya sangat indah. Dari puncak bukit ini kita dapat memandang pemandangan alam Mandailing Natal yang dikelilingi oleh hutan tropis. Udaranya sangat segar dan sejuk. Anda dapat menikmati segelas bandrek untuk menghangatkan tubuh.
Bendungan Batang Gadis
Taman Rekreasi Bendung Batang Gadis dinyatakan sebagai salah satu jembatan besar di Indonesia. Terletak di desa Aek Godang. Bendungan ini dibangun sbelum trbentukanya Kabupaten Mandailing Natal. Pada waktu itu danau buatan ini masih termasuk wilayah Kabupaten Tapanuli Selatan. Bendung Batang Gadis memberikan banyak manfaat. Bendungan ini digunakan untuk pengairan sawah di Kabupaten Mandailing Natal. Belakangan ini kawasannya sudah ditata indah. Lokasinya yang luas dan strategis menarik pengunjung karena mereka dapat menikmati keindahan alam Mandailing Natal. Banyak yang berkunjung pada saat Idul Fitri.
Gunung Sorik Merapi
Gunung berapi Sorik Marapi terletak pada ketinggian 2.142 m di atas permukaan laut. Hutan di sekeliling gunung ini masih dalam kondisi yang baik dan penuh dengan berbagai keanekaragaman hayati dan menjadi asset terbesar untuk pengembangan Taman Nasional batang Gadis. Kegiatan trekking akhir-akhir ini sudah mulai sering dilakukan untuk penelitian kekayaan alam Mandailing Natal. Ada beberapa trek menuju puncak Sorik Marapi ini. Untuk mencapai ke puncak Sorik Marapi ini dibutuhkan waktu rata-rata 3 jam.
Danau Marambe
Danau Marambe terletak di Desa Sirambas, Kecamatan Panyabungan Barat. Danau ini sangat indah, hijau dan asri dengan luas genangan ± 20 hektar.
Danau ini dikelilingi oleh bukit-bukit hijau yang membuat alamnya sejuk dan menyenangkan. Danau ini dimanfaatkan juga sebagai tempat pemancingan dan membuat pengunjung lebih tertarik berkunjung ke tempat ini terutama bagi yang mempunyai hobby memancing.
Air Panas Sibanggor
Sibanggor merupakan sebuah tempat yang menyenangkan yang terletak di kaki Gunung Sorik Marapi. Sibanggor terdiri atas tiga desa : Sibanggor Jae, Sibanggor Tonga dan Sibanggor Julu. Seluruh daerah Sibanggor penuh dengan air panas kecil. Lokasi yang paling nyaman terletak di pinggir jalan antara Sibanggor Tonga dan Jae.
Air panas disini mangandung belerang. Ba-nyak pengun-jung dari dae-rah lain da-tang khusus untuk mengobati berbagai jenis penyakit kulit. Di lokasi ini juga terdapat beberapa kamar mandi dimana pengunjung dapat menikmati kehangatan air belerang dan juga ada beberapa tempat khusus untuk merebus telur. Disamping itu, disini juga dapat menikmati pemandangan dan rumah-rumah penduduk yang masih sangat tradisional.
Danau Siombun
Danau ini sangat bersih. Air yang mengalir keluar dari danau kecil ini digunakan masyarakat lokal untuk mandi. Air danau ini juga digunakan sebagai persediaan air untuk Panyabungan. Menurut masyarakat setempat,dahulu kala ada seorang anak yang meminta air pada ibunya. Tapi ibunya tidak memberikannya air sehingga dia menjadi marah dan membuang air yang ada disana. Sebuah sumur muncul tiba-tiba dan makin membesar yang akhirnya membentuk Danau Siombun.
Air Panas Siabu
Air Panas ini terletak di desa Siabu ±100 meter dari Kantor Camat Siabu. Objek wisata ini banyak dikunjungi masyarakat pada saat hari libur. Temperaturnya tidak begitu panas bila dibandingkan dengan tempat-tempat lain di Kab. Mandailing Natal. Air panas ini juga tidak mengandung belerang.
Pantai Sikara-kara dan Pulau Unggeh
Pantai Sikara-Kara dan Pulau Unggeh terletak di Kecamatan Natal. Jaraknya ± 6 km dari Kota Natal. Seperti halnya Pantai Natal, Pantai Sikara-Kara juga belum dikelola secara optimal. Di tengah pantai ini terdapat Pulau Unggeh yang berarti unggas. Disebut Pulau Unggeh karena di pulau ini terdapat banyak jenis unggas atau burung di pulau ini. Pantai ini sangat indah dengan hamparan pasir putihnya, terlebih-lebih pada saat matahari terbenam.
Pantai Natal
Salah satu karunia terbesar yang diberikan oleh Tuhan kepada masyarakat Mandailing Natal adalah kawasan pantai yang cukup panjang kira-kira 170 mil. Pantai Natal termasuk sumber daya alam yang banyak sekali manfaatnya. Pantai ini terletak di Kecamatan Natal. Pantai ini sangat potensial untuk dikembangkan menjadi kawasan wisata bahari yang tidak kalah menariknya dengan kawasan wisata bahari di daerah lain
Sumber : http://www.madina.go.id
Foto : http://www.mandailing.org
Taman ini memiliki 242 tumbuhan berpembuluh (vascular plaut) atau 1,00 % dari tanaman pembuluh di Indonesia, memiliki 218 jenis satwa burung (38 jenis langka), dan 25 jenis mamalia besar.
Objek peninggalan sejarah berupa Bagas Godang (Istana Raja), Terowongan Jepang, Meriam Portugis dan Sumur Multatuli, merupakan potensi wisata yang cukup baik.
Objek wisata yang masih alami tetapi telah banyak dikunjungi para wisatawan adalah :
1. Air Panas Sibanggor, di Kecamatan Tambangan
2. Air Panas Sampuraga, di Kecamatan Panyabungan
3. Air Panas Siabu, di Kecamatan Siabu
4. Danau Siombun, di Kecamatan Panyabungan
5. Danau Marambe, di Kecamatan Panyabungan Barat
6. Bendungan Batang Gadis, di Kecamatan Panyabungan
7. Atraksi Monyet, di Kecamatan Siabu
8. Air Panas Putusan, di Kecamatan Panyabungan Selatan
9. Air Terjun Sitaut, di Kecamatan Kotanopan
10. Panaroma Sopotinjak, di Kecamatan Batang Natal
11. Sumur Multatuli, di Kecamatan Natal
12. Pantai Natal, di Kecamatan Natal
13. Pantai Sikara-Kara, di Kecamatan Natal
Cerita Rakyat
Sampuraga
Salah satu cerita yang diwariskan secara turun temurun di Mandailing adalah cerita ataupun “Legenda Sampuraga”.
Dahulu, Sampuraga dan ibunya tinggal di tempat daerah Padang Bolak. Keadaan sangat miskin di tempat ini, sehingga menyebabkan Sampuraga berkeinginan untuk merubah kehidupannya. Dia tidak ingin pekerjaannya hanya mencari kayu bakar setiap harinya. Ia ingin menjadi pemuda yang membayangkan masa depan yang cerah. Kemudian ia berniat untuk merantau dan mohon izin pada ibunya yang sudah sangat tua. Sampuraga meninggalkan orang tuanya dengan linangan air mata. Dia berjanji akan membantu keadaan ibunya apabila telah berhasil kelak. Ibunya kelihatan begitu sedih, karena Sampuraga adalah putera satu-satunya yang dimilikinya. Ia melepas kepergian putranya dengan tetesan air mata.
Sampuraga terus melanjutkan petualangannya dengan kelelahan yang terus menerus. Setelah beberapa lama sampailah ia ke Pidelhi (Pidolo sekarang), dan berdiam disana untuk beberapa waktu. Kemudian dilanjutkannya perjalanannya ke Desa Sirambas. Pada waktu itu Sirambas dipimpin oleh seorang raja yang bernama Silanjang (Kerajaan Silancang). Ditempat ini Sampuraga bekerja keras yang merupakan kebiasannya sejak masa kanak-kanak. Rajapun tertarik dan ingin menjodohkannya pada putrinya. Tentu saja Sampuraga sangat senang setelah mengetahui hal ini. Raja bermaksud membuat pesta besar, semua raja-raja di sekitar Mandailing diundang. Sementara ibunya sangat rindu pada putranya. Sampuraga telah tumbuh menjadi dewasa dengan begitu banyak perubahan. Dia tidak lagi seorang yang miskin seperti dahulu. Dia adalah lelaki yang kaya raya dan menjadi seorang raja.
Ketika upacara perkawinan tiba, ibunya dating ke pesta itu berharap dapat berjumpa denganputranya secepatnya. Tetapi apa yang terjadi ??? Sampuraga tidak mengakui kalau itu adalah ibunya. Dia malu kepada istrinya karena ibunya kelihatan sangat tua renta dan miskin, dia menyuruh ibunya untuk pergi dari tempat itu.
Sampuraga berkata “Hei orang tua, kamu bukan ibu kandungku, ibuku telah lama meninggal dunia. Pergi…!!!” Sampuraga tidak peduli dengan kesedihan dan penderitaan ibunya.
Ibunya pun pergi sambil memohon dan berdo’a kepada Allah SWT, Sampuraga dikutuk oleh ibunya dan kedurhakaannya tidak lain adalah disebabkan oleh kekayannya, ibunya memeras air susunya, Sampuraga lupa bahwa ia pernah disusui oleh ibunya.
Atas kehendak Allah SWT, datanglah badai tiba-tiba disekitar tempat istana menjadi banjir dan dihempas oleh air. Sampuraga tenggelam dan tempat itu menjadi Sumur Air Panas. Itulah yang dikenal dengan Air Panas Sampuraga di Desa Sirambas.
Wisata Sejarah
Multatuli
Multatuli (Bahasa Latin untuk “Saya sungguh menderita”) adalah salah satu nama yang terkenal di Natal. Multatuli adalah nama samaran untuk Eduard Douwes Dekker yang menulis buku “Max Havelaar”.
Buku ini disebut sebagai “buku yang menghapuskan kolonialisme”. Multatuli tinggal di Natal pada tahun 1842-1844. Disini da-pat dilihat bebe-rapa peningga-lan Multatuli se-perti sebuah sumur besar yang duhulunya digunakan oleh Multatuli pada saat dia tinggal di Natal.
Pesanggrahan Kotanopan
Pesanggrahan Kotanopan, pesanggrahan terbesar dan terbagus di Sumatera pada abad XIX. Bahkan Presiden Soekarno pun pernah berkunjung ke pesanggrahan ini pada 16 Juni 1948 untuk menggelar rapat raksasa. Di depan pesanggrahan ini juga terdapat prasasti yang memuat nama para Perintis Kemerdekaan yang berasal dari Mandailing.
Rumah Kontrolir Natal pada Abad XIX
Perayaan 10 Muharram memperingati hari wafatnya cucu Nabi Muhammad SAW. Hasan dan Husin di halaman kediaman Kontrolir Natal, Asisten Residensi Mandailing Angkola di Natal pada abad XIX.
Bagas Godang dan Sopo Godang
Bagas Godang (Rumah Raja) senantiasa dibangun berpasangan dengan sebuah balai sidang adat yang terletak di hadapan atau di samping Rumah Raja. Balai sidang adat tersebut dinamakan Sopo Sio Rancang Magodang atau Sopo Godang. Bangunannya mempergunakan tiang-tiang besar yang berjumlah ganjil sebagai-mana jumlah anak tangganya. Untuk melambangkan bahwa pemerintahan dalam Huta adalah pemerintahan yang demokratis, maka Sopo Godang dibangun tanpa di dinding.
Dengan cara ini, semua sidang adat dan pemerintahan dapat dengan langsung dan bebas disaksikan dan didengar oleh masyarakat Huta. Sopo Godang tersebut dipergunakan oleh Raja dan tokoh-tokoh Na Mora Na Toras sebagai wakil rakyat untuk "tempat mengambil keputusan-keputusan penting dan tempat menerima tamu-tamu terhormat". Sesuai dengan itu, maka bangunan adat tersebut diagungkan dengan nama Sopo Sio Rancang Magodang inganan ni partahian paradatan parosu-rosuan ni hula dohot dongan (Balai Sidang Agung tempat bermusyawarah/mufakat, melakukan sidang adat dan tempat menjalin keakraban para tokoh terhormat dan para kerabat). Biasanya di dalam bangunan ini ditempatkan Gordang Sambilan yaitu alat musik tradisional Mandailing yang dahulu dianggap sakral.
Setiap Bagas Godang yang senantiasa didampingi oleh sebuah Sopo Godang harus mempunyai sebidang halaman yang cukup luas. Oleh kerana itulah maka kedua bangunan tersebut ditempatkan pada satu lokasi yang cukup luas dan datar dalam Huta. Halaman Bagas Godang dinamakan Alaman Bolak Silangse Utang (Halaman Luas Pelunas Hutang). Sesiapa yang mencari perlindungan dari ancaman yang membahayakan dirinya boleh mendapat keselamatan dalam halaman ini. Menurut adat Mandailing, pada saat orang yang sedang dalam bahaya memasuki halaman ini, ia dilindungi Raja, dan tidak boleh diganggu-gugat.
Sesuai dengan fungsi Bagas Godang dan Sopo Godang, kedua bangunan adat tersebut melambangkan keagungan masyarakat Huta sebagai suatu masyarakat yang diakui sah kemandiriannya dalam menjalankan pemerintahan dan adat dalam masyarakat Mandailing.
Karena itu, kedua bangunan ter-sebut dimuliakan da-lam kehidupan mas-yarakat. Adat-istiadat Mandailing menjadi-kan kedua bangunan adat tersebut sebagai milik masyarakat Huta tanpa mengu-rangi kemulian Raja dan keluarganya yang berhak penuh menem-pati Bagas Godang. Oleh kerana itu, pada masa lampau Bagas Godang dan Sopo Godang maupun Alaman Bolak Silangse Utang dengan sengaja tidak berpagar atau bertembok memisahkannya dari rumah-rumah penduduk Huta.
Lubuk Larangan
Di sepanjang Sungai Batang Gadis ada sebuah bagian yang disebut Lubuk Larangan yang panjangnya kira-kira 1 km. Biasanya dua kali dalam setahun terbuka bagi umum untuk menangkap ikan namun dalam bantuk yang terorganisir. Pada waktu lain dilarang keras untuk menangkap ikan disini. Seseorang yang ingin ikut ambil bagian dalam menangkap ikan harus mendaftarkan dirinya kepada sekretariat dan harus membayar uang pendaftaran. Uang tersebut dipergunakan untuk kepentingan umum dalam komunitas masyarakat tersebut.
Gagasan dibalik lubuk larangan ini adalah untuk menghasilkan pendapatan untuk desa dan pelestarian ikan-ikan langka seperti ikan merah (sejenis jurung).
Wisata Alam
Sopotinjak
Di Kecamatan Batang Natal terdapat sebuah puncak yang bernama Sopotinjak. Pemandangannya sangat indah. Dari puncak bukit ini kita dapat memandang pemandangan alam Mandailing Natal yang dikelilingi oleh hutan tropis. Udaranya sangat segar dan sejuk. Anda dapat menikmati segelas bandrek untuk menghangatkan tubuh.
Bendungan Batang Gadis
Taman Rekreasi Bendung Batang Gadis dinyatakan sebagai salah satu jembatan besar di Indonesia. Terletak di desa Aek Godang. Bendungan ini dibangun sbelum trbentukanya Kabupaten Mandailing Natal. Pada waktu itu danau buatan ini masih termasuk wilayah Kabupaten Tapanuli Selatan. Bendung Batang Gadis memberikan banyak manfaat. Bendungan ini digunakan untuk pengairan sawah di Kabupaten Mandailing Natal. Belakangan ini kawasannya sudah ditata indah. Lokasinya yang luas dan strategis menarik pengunjung karena mereka dapat menikmati keindahan alam Mandailing Natal. Banyak yang berkunjung pada saat Idul Fitri.
Gunung Sorik Merapi
Gunung berapi Sorik Marapi terletak pada ketinggian 2.142 m di atas permukaan laut. Hutan di sekeliling gunung ini masih dalam kondisi yang baik dan penuh dengan berbagai keanekaragaman hayati dan menjadi asset terbesar untuk pengembangan Taman Nasional batang Gadis. Kegiatan trekking akhir-akhir ini sudah mulai sering dilakukan untuk penelitian kekayaan alam Mandailing Natal. Ada beberapa trek menuju puncak Sorik Marapi ini. Untuk mencapai ke puncak Sorik Marapi ini dibutuhkan waktu rata-rata 3 jam.
Danau Marambe
Danau Marambe terletak di Desa Sirambas, Kecamatan Panyabungan Barat. Danau ini sangat indah, hijau dan asri dengan luas genangan ± 20 hektar.
Danau ini dikelilingi oleh bukit-bukit hijau yang membuat alamnya sejuk dan menyenangkan. Danau ini dimanfaatkan juga sebagai tempat pemancingan dan membuat pengunjung lebih tertarik berkunjung ke tempat ini terutama bagi yang mempunyai hobby memancing.
Air Panas Sibanggor
Sibanggor merupakan sebuah tempat yang menyenangkan yang terletak di kaki Gunung Sorik Marapi. Sibanggor terdiri atas tiga desa : Sibanggor Jae, Sibanggor Tonga dan Sibanggor Julu. Seluruh daerah Sibanggor penuh dengan air panas kecil. Lokasi yang paling nyaman terletak di pinggir jalan antara Sibanggor Tonga dan Jae.
Air panas disini mangandung belerang. Ba-nyak pengun-jung dari dae-rah lain da-tang khusus untuk mengobati berbagai jenis penyakit kulit. Di lokasi ini juga terdapat beberapa kamar mandi dimana pengunjung dapat menikmati kehangatan air belerang dan juga ada beberapa tempat khusus untuk merebus telur. Disamping itu, disini juga dapat menikmati pemandangan dan rumah-rumah penduduk yang masih sangat tradisional.
Danau Siombun
Danau ini sangat bersih. Air yang mengalir keluar dari danau kecil ini digunakan masyarakat lokal untuk mandi. Air danau ini juga digunakan sebagai persediaan air untuk Panyabungan. Menurut masyarakat setempat,dahulu kala ada seorang anak yang meminta air pada ibunya. Tapi ibunya tidak memberikannya air sehingga dia menjadi marah dan membuang air yang ada disana. Sebuah sumur muncul tiba-tiba dan makin membesar yang akhirnya membentuk Danau Siombun.
Air Panas Siabu
Air Panas ini terletak di desa Siabu ±100 meter dari Kantor Camat Siabu. Objek wisata ini banyak dikunjungi masyarakat pada saat hari libur. Temperaturnya tidak begitu panas bila dibandingkan dengan tempat-tempat lain di Kab. Mandailing Natal. Air panas ini juga tidak mengandung belerang.
Pantai Sikara-kara dan Pulau Unggeh
Pantai Sikara-Kara dan Pulau Unggeh terletak di Kecamatan Natal. Jaraknya ± 6 km dari Kota Natal. Seperti halnya Pantai Natal, Pantai Sikara-Kara juga belum dikelola secara optimal. Di tengah pantai ini terdapat Pulau Unggeh yang berarti unggas. Disebut Pulau Unggeh karena di pulau ini terdapat banyak jenis unggas atau burung di pulau ini. Pantai ini sangat indah dengan hamparan pasir putihnya, terlebih-lebih pada saat matahari terbenam.
Pantai Natal
Salah satu karunia terbesar yang diberikan oleh Tuhan kepada masyarakat Mandailing Natal adalah kawasan pantai yang cukup panjang kira-kira 170 mil. Pantai Natal termasuk sumber daya alam yang banyak sekali manfaatnya. Pantai ini terletak di Kecamatan Natal. Pantai ini sangat potensial untuk dikembangkan menjadi kawasan wisata bahari yang tidak kalah menariknya dengan kawasan wisata bahari di daerah lain
Sumber : http://www.madina.go.id
Foto : http://www.mandailing.org
Label:
Profil Daerah
Gambaran Umum Kabupaten Mandailing Natal
Gambaran Umum Kabupaten Mandailing Natal

Sebelum Mandailing Natal menjadi sebuah kabupaten, wilayah ini masih termasuk Kabupaten Tapanuli Selatan. Setelah terjadi pemekaran, dibentuklah Kabupaten Mandailing Natal berdasarkan undang-undang Nomor 12 tahun 1998, secara formal diresmikan oleh Menteri Dalam Negeri pada tanggal 9 Maret 1999.
Kabupaten Mandailing Natal terletak berbatasan dengan Sumatera Barat, bagian paling selatan dari Propinsi Sumatera Utara. Penduduk asli Kabupaten Mandailing Natal terdiri dari dua etnis :
• Masyarakat etnis Mandailing
• Masyarakat etnis Pesisir
Masyarakat Mandailing Natal terdiri dari suku/etnis Mandailing, Minang, Jawa, Batak, Nias, Melayu dan Aceh, namun etnis mayoritas adalah etnis Mandailing 80,00 %, etnis Melayu pesisir 7,00 % dan etnis jawa 6,00 %. Etnis Mandailing sebahagian besar mendiami daerah Mandailing, sedangkan etnis melayu dan minang mendiami daerah Pantai Barat.
Seperti halnya kebanyakan daerah-daerah lain, pada zaman dahulu penduduk Mandailing hidup dalam satu kelompok-kelompok, yang dipimpin oleh raja yang bertempat tinggal di Bagas Godang. Dalam mengatur sistem kehidupan, masyarakat Mandailing Natal menggunakan sistem Dalian Na Tolu (tiga tumpuan). Artinya, mereka terdiri dari kelompok kekerabatan Mora (kelompok kerabat pemberi anak dara), Kahanggi (kelompok kerabat yang satu marga) dan Anak Boru (kelompok kerabat penerima anak dara). Yang menjadi pimpinan kelompok tersebut biasanya adalah anggota keluarga dekat dari Raja yang menjadi kepala pemerintahan di Negeri atau Huta asal mereka.
Letak Geografis
Kabupaten Mandailing Natal terletak pada 0°10′ – 1°50′ Lintang Utara dan 98°10′ – 100°10′ Bujur Timur ketinggian 0 – 2.145 m di atas permukaan laut. Luas wilayah Kabupaten Mandailing Natal ± 6.620,70 km2 atau 9,23 persen dari wilayah Sumatera Utara dengan batas-batas wilayah sebagai berikut :
1. Sebelah Utara : Kab.Tapanuli Selatan
2. Sebelah Selatan : Prop.Sumatera Barat
3. Sebelah Barat : Samudera Indonesia
4. Sebelah Timur : Prop.Sumatera Barat
Iklim
Iklim Kabupaten Mandailing Natal adalah berkisar antara 23 ºC – 32 ºC dengan kelembaban antara 80 – 85 %
Sumber Mata AirGugusan Bukit Barisan merupakan sumber mata air sungai-sungai yang mengalir di Kabupaten Mandailing Natal. Ada 6 sungai besar bermuara ke Samudera Hindia diantaranya adalah : Batang Gadis 137,5 Km, Siulangaling 46,8 Km, Parlampungan 38,72 Km, Tabuyung 33,46 Km, Batahan 27,91 Km, Kunkun 27,26 Km, dan sungai-sungai lainnya kira-kira 271,15 Km. Keberadaan sungai-sungai itu membuktikan bahwa daerah Kabupaten Mandailing Natal adalah daerah yang subur dan menjadi lumbung pangan bagi wilayah sekitarnya.
Pertanahan
Status kepemilikan tanah di Kabupaten Mandailing Natal adalah :
– Hak Milik 1.885,00 Ha
– Hak Guna Bangunan 2,00 Ha
– Hak Pakai 9,00 Ha
– Hak Guna Usaha 2.392,00 Ha
Daerah Mandailing Natal terbagi dalam 3 bagian topografi yakni :
- Dataran Rendah, merupakan daerah pesisir dengan kemiringan 0 º – 2 º dengan luas sekitar 160.500 hektar atau 18,68 %.
- Dataran Landai, dengan kemiringan 2º – 15 º, dengan luas 36.385 hektar atau 4,24 %
- Dataran Tinggi, dengan kemiringan 7º – 40º, dengan luas 662.139 hektar atau 77,08% dibedakan atas 2 jenis yakni : Daerah perbukitan dengan luas 308.954 hektar atau 46,66% dan Daerah pegunungan dengan luas 353.185 hektar atau 53,34%
Kabupaten Mandailing Natal, terdiri dari 23 Kecamatan , dan 386 Desa/Kelurahan dengan jumlah penduduk 413.750 jiwa, laki-laki 203,565 jiwa atau 49.20 % dan perempuan 210.185 jiwa atau 50.80 % (data tahun 2006). Dan tingkat pertumbuhan 1,42% pertahun
Perbankan
Di Kabupaten Mandailing Natal terdapat 8 (delapan) buah Bank, yang terdiri dari 4 kantor Bank Pemerintah dan 4 kantor Bank Swasta Nasional.
Mandailing Natal tempo doeloe
MANDAILING DALAM LINTASAN SEJARAH (3)
oleh : Z. Pangaduan LubisPengaruh Hindu Terhadap Pribumi Mandailing
Pada uraian yang di atas sudah dikemukan mengenai peninggalan-peninggalan dari zaman pra sejarah yang ditemukan di beberapa tempat di Mandailing. Peninggalan-peninggalan ini membuktikan bahwa sudah ada manusia yang mendiami wilayah Mandailing pada masa tersebut. Sebagai pribumi Mandailing, mereka terus berkembang sampai orang-orang Hindu datang dan menetap di Mandailing.
Besar kemungkinan antara penduduk pribumi hidup berdampingan secara damai dengan orang-orang Hindu yang menetap dan kemudian membangun kerajaan di wilayah Mandailing. Dugaan ini didasarkan pada kenyataan bahwa meskipun banyak ditemukan peninggalan dari zaman Hindu di wilayah Mandailing, tapi ditemukan juga peninggalan kebudayaan pribumi Mandailing yang berkembang sendiri tanpa didominasi oleh pengaruh Hindu.
Misalnya, patung-patung batu seperti yang terdapat di halaman Bagas Godang Panyabungan Tonga-Tonga dan patung-patung kayu yang terdapat di Hua Godang. Demikian juga ornamen-ornamen tradisional yang terdapat pada Bagas Godang dan Sopo Godang yang hanya sedikit sekali memperlihatkan pengaruh Hindu. Yakni pada ornamen berbentuk segitiga yang disebut bindu (pusuk robung) yang merupakan lambang dari Dalian Na Tolu.
Dalam kebudayaan Hindu, Bindu (bentuk segitiga) merupakan lambang mistik hubungan manusia dengan dewa trimurti. Bagian-bagian lain dari ornamen tradisional tidak memperlihatkan adanya pengaruh Hindu.
Dari bentuknya, ornamen-ornamen yang ada sampai sekarang ini hanya menggunakan garis-garis geometris (garis lurus), kecuali ornamen benda alam, buatan dan hewan seperti matahari, bulan, bintang, pedang, ular dll. Bentuk ornamen yang hanya menggunakan garis-garis geometris ini membuktikan ornamen tersebut berasal dari zaman yang sudah lama sekali (primitif).
Pengaruh Hindu juga terdapat pada budaya tradisional Mandailing, antara lain pada penamaan desa na ualu (mata angin) dan pada gelar kebangsawanan seperti Mangaraja, Soripada, Batara Guru serta nama gunung seperti Dolok Malea. Keaneragaman bahasa Mandailing yang terdiri dari hata somal, hata sibaso, hata parkapur, hata teas dohot jampolak dan hata andung yang kosa katanya masing-masing berlainan menunjukkan budaya pribumi Mandailing sudah lama berkembang yang tentunya dihasilkan dari peradaban yang sudah tinggi yang tidak banyak dipengaruhi oleh budaya Hindu.
Jadi dapat disimpulkan bahwa meskipun orang Hindu lama menetap dan mengembangkan budayanya tetapi pribumi Mandailing tidak didominasi oleh orang-orang Hindu dan bebas mengembangkan budayanya sendiri.
Adanya dua masyarakat, yaitu pribumi Mandailing dan orang Hindu yang masing-masing mengembangkan budayanya pada masa yang lalu di lingkuangan alam yang subur dan kaya dengan emas diduga kemungkinan besar Mandailing merupakan pusat peradaban di Sumatera pada masa awal abad-abad Masehi.
Salah satu bukti mengenai hal ini adalah adanya ragam bahasa yang sudah disebutkan di atas dan adanya aksara yang dinamakan Surat Tulak-Tulak yang kemudian berkembang ke arah utara mulai dari Toba, Simalungun sampai Karo dan Pakpak. Penelitian para pakar sudah membuktikan bahwa aksara Mandailing (Surat Tulak-Tulak). Bahasa yang halus dan aksara yang dimiliki oleh sesuatu bangsa menunjukkan bahwa bangsa tersebut sudah mempunyai peradaban yang tinggi.
Ada permasalahan yang sampai sekarang belum terpecahkan, yaitu kapan orang Hindu lenyap dari wilayah Mandailing dan apa yang menyebabkan mereka hilang dari Mandailing. Setelah orang Hindu lenyap dari Mandailing, pribumi Mandailing terus mengembangkan kebudayaannya. Budaya Mandailing berkembang tanpa memperlihatkan pengaruh budaya Hindu yang esensial.
Dalam kebudayaan Hindu salah satu yang esensial adalah konsep bahwa raja adalah wakil dewa di bumi yang mendasari feodalisme dalam pelaksanaan pemerintahan kerajaan. Masyarakat Mandailing tidak menganut konsep yang demikian itu tetapi pemerintahan yang demokratis yang dijalankan bersama-sama oleh Namora Natoras dan Raja.
Hal ini dilambangkan oleh bangunan Sopo Godang sebagai balai sidang adat (pemerintahan) yang sengaja dibuat tidak berdinding agar rakyat dapat secara langsung melihat dan mendengar segala hal yang dibicarakan oleh para pemimpin mereka. Semuanya berlangsung secara transparan yang langsung disaksikan sendiri oleh rakyat.
Setelah Belanda menjajah Mandailing, keadaan yang demikian itu mengalami banyak perubahan sehingga akhirnya muncul hal-hal yang feodalistis. Karena untuk memperkuat kedudukannya di Mandailing, Belanda berusaha mengembangkan hal-hal yang feodalistis untuk dapat menguasai rakyat Mandailing yang demokratis. Sifat rakyat Mandailing yang demokratis itu pada akhirnya mendorong munculnya pergerakan nasional di Mandailing sebagai pelopor pergerakan di Sumatera Utara. (bersambung)
Langganan:
Komentar (Atom)

















,
,


